Ketika Anda Terjatuh, Tuhan akan Mengangkat Anda

Alkisah, ada seorang pengusaha yang bernama Sulaeman. Sulaeman adalah seorang pengusaha ternak ayam yang besar. Kandang ternaknya begitu besar dan modern, bisa dibilang salah satu yang termodern di Indonesia.

Apa yang dicapai Sulaeman tidak datang begitu saja. Semuanya datang dengan kerja keras setelah jatuh bangun perjuangan yang panjang.

Sulaeman memang dilahirkan dari keluarga peternak. Ayahnya seorang peternak ayam di kampung. Selepas sekolah setingkat SMA, Sulaeman lalu belajar mengembangkam ternak ayahnya.

Karena ingin cepat mengembangkan usaha, Sulaeman menggadaikan sertifikat rumah ayahnya untuk meminjam uang di bank. Sayangnya, karena kurang pengalaman, usahanya bangkrut. Jangankan untung, uang ludes, dan hutang tidak terbayar.

Sulaemanpun terjerat hutang ratusan juta rupiah. Dalam kondisi terpuruk dan dikejar debt collector itulah, Sulaeman punya dua pilihan; menyerah atau bangkit.  Sulaeman memilih bangkit.

Setelah berhasil menegosiasikan hutangnya, Sulaeman mulai merangkak lagi dengan pelan. Ia lebih berhati-hati, dan mulai dari kecil.

Butuh kerja keras bertahun-tahun untuk bangkit. Tapi Sulaeman tidak menyerah. Jatuh bangun sudah menjadi hal biasa dalam mengembangkan usaha. Ia bertekad untuk bangkit lebih baik.

Allah memang Maha Mendengar. Kerja keras itu perlahan mendapatkan hasil. Usaha Sulaeman terus berkembang hingga sekarang.

Semua berawal dari kejatuhan. Saat jatuh, Tuhan sedang menguji kita apakah sanggup melewati tantangan. Kalau sanggup, Dia akan mengangkat kita ke derajat yang jauh lebih tinggi.

Banjir Jabodetabek Nan Dahsyat

Saya menuliskan cerita ini sambil menunggu banjir surut yang menghalangi saya ke rumah. Jalanan sekitar perumahan saya di Harapan Indah Bekasi memang terkepung banjir, jadi akses masuknya tidak bisa. Tetap alhamdulillah karena rumah masih aman.

Baru tadi pagi saya rekaman radio di 103,4 DFM Jakarta, kebetulan saya bersama tim mengisi segmen Lentera Jiwa setiap pagi jam 05.00-06.00 (stay tuned yaa, hehe). Nah, tema yang saya bawakan adalah tetap sabar dan senyum, menghadapi situasi apapun, walau terasa sangat berat sekalipun.

Saya tersenyum simpul sendiri. Terkadang, memang mudah mengucapkan, tetapi mengerjakan apa yang kita ucapkan seringkali tidak mudah. Saat kita mengalami sendiri, baru terasa bahwa mengerjakannya tidaklah semudah mengeluarkannya dalam bentuk kata-kata.

Lalu apa yang kita lakukan saat ada musibah banjir? Tetap sabar dan tabah. Musibah yang menimpa akan menjadikan kita jauh lebih kuat.

Dan tetaplah bertahan. Betapapub gelapnya malam, saat kita mampu bertahan, pasti akan berlalu, digantikan mentari yang lebih cemerlang.

Salam Man Jadda Wajada.
Follow me on Twitter @akbarzainudin

Berani Mulai Usaha

Tidak mudah membangun keberanian menjadi pengusaha. Kita punya kemauan yang sangat kuat, tetapi seringkali kemauan kuat itu dikalahkan oleh kekhawatiran dan ketakutan kita. Kita seringkali dihadapkan pada dua kekuatan yang saling bertarung dalam diri kita; antara kemauan dan kehendak yang kuat melawan ketakutan yang terkadang juga sangat kuat. Tidak selalu kemauan kuat kita yang menang, mungkin lebih sering ketakutan kita mengalahkan semua kehebatan yang kita miliki. Anda punya potensi hebat, tapi kehebatan Anda sering tertutupi oleh ketakutan yang kita ciptakan sendiri.

Mari kita bedah apa yang membuat kita khawatir atau takut memulai menjadi pengusaha. Ketakutan pertama dan yang paling mendominasi ketakutan kita adalah takut gagal. Belum apa-apa, belum mulai membuka usaha, biasanya bayang-bayang kegagalan itu menghantui. Kita sudah takut duluan, pikiran kita menghakimi, membelenggu, memasukkan kita ke dalam berbagai ketidakmungkinan. Belum mulai kita sudah memvonis bahwa apa yang kita kerjakan sulit berhasil. Pada akhirnya apa yang kita pikirkan biasanya terjadi. Jika kita berpikir bahwa kita akan berhasil, maka semua kemungkinan terbuka untuk berhasil. Sebaliknya, jika kita berpikir gagal, maka hampir pasti kita akan gagal.

Yang harus kita lakukan adalah percaya dengan diri kita bahwa kita akan melakukan yang terbaik yang kita mampu. Kita percaya bahwa diri kita bisa, dan mempunyao peluang sukses yang besar jika apa yang kita kerjakan kita lakukan dengan penuh kesungguhan. Ketakutan kedua adalah kita takut produk kita mau dibeli atau tidaktidak karena tidak tahu siapa yang mau beli. Hal ini terjadi pada hampir setiap orang yang mau mulai usaha, baik usaha kecil maupun besar. Pada usaha besar hal ini biasanya diantisipasi dengan melakukan survey pasar terlebih dahulu apakah ada kebutuhan konsumen akan produk kita atau tidak. Mereka juga melakukan tes pasar terlebih dahulu apakah produk mereka diterima oleh konsumen atau tidak, dan kekurangan apa yang terdapat pada produknya.

Bagi pengusaha kecil dengan modal terbatas tentu tidak bisa melakukan survei besar semacam itu. Tetapi tetap penting melakukan uji coba produk terlebih dahulu. Artinya, saat pertama-tama produksi mulailah dengan jumlah sedikit untuk melihat tanggapan masyarakat. Jika tanggapannya baik, maka bisa masuk ke tahapan produksi yang lebih banyak. Tetapi jika tanggapannya kurang bagus, perlu ada evaluasi terhadap berbagai kekurangan yang ada sehingga bisa diperbaiki sebelum diproduksi dalam jumlah yang lebih besar.

Ketakutan ketiga, tidak tahu bagaimana memasarkan produk atau jasa, apalagi kalau kita belum pernah belajar tentang pemasaran dan penjualan. Kita takut karena belum belajar, takut salah strategi, takut salah melangkah. Padahal, belajar itu tidak harus selaku dilakukan melalui pendidikan formal. Kita bisa belajar pemasaran dan penjualan dari mana saja dan dari siapa saja: dari buku, internet, facebook, twitter, seminar, pelatihan, ngobrol langsung dengan orangnya, pokoknya dari siapa saja dan kapan saja.

Bahkan, pembelajaran paling baik adalah dengan terjun langsung di lapangan, artinya terjun langsung membangun usaha sesuai dengan apa yang diinginkan. Memang ongkos belajarnya terkadang jauh lebih mahal dibandingkan dengan belajar formal, tetapi pelajaran yang diambil biasanya lebih mengena.

Mengapa lebih mahal? Karena praktiknya tidak lagi teoritis melainkan langsung praktek secara nyata. Dengan praktik secara nyata, risikonya bisa jauh besar.Jika produk gagal dijual, maka akan menyulitkan keseluruhan usaha, apalagi jika modal keuangannya terbatas. Dengan mencoba sedikit semi sedikit, risiko itu bisa diminimalkan.

Namun demikian, pembelajarannya bisa dilakukan secara langsung. Artinya, kalau kita melakukan satu kesalahan, selanjutnya kita akan lebih hati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Kalau kita pernah tertipu misalnya, tentu kita akan lebih berhati-hati agar tidak tertipu untuk kedua kalinya. Jadi, tidak perlu takut walau belum pernah belajar secara formal. Bukan juga ngga perlu belajar. Yang penting mulai dulu, habis itu belajar sebanyak-banyaknya dari berbagai pihak dengan berbagai cara.

Ketakutan keempat, takut rugi atau ngga balik modal. Terkadang, apa yang kita jadikan modal adalah tabungan yang kita kumpulkan dalam jangka waktu lama. Kita mempertaruhkan hasil menabung bertahun-tahun itu untuk dijadikan modal awal usaha. Keadaan ini tentu saja sering menjadi ketakutan tersendiri.

Nah, dalam hal ini saya mendapatkan pelajaran berharga saat berbincang dengan pengusaha nasional Bob Sadino, “Kita itu menjadi pengusaha tujuannya untuk untung apa rugi? Boleh ngga saya bilang kita ini menjadi pengusaha untuk rugi? Apakah dengan demikian selamanya kita akan rugi terus? Sama halnya kalau kita bilang bahwa tujuan menjadi pengusaha adalah untung, toh tidak selamanya kita untung, pasti di tengah jalan ada ruginya.

Artinya, sebagai seorang pengusaha, kita memang perlu menyiapkan mental bahwa suatu saat kita mendapat untung, dan di saat lain kita mendapatkan kerugian. Untung rugi adalah hal biasa dalam bisnis sehingga tidak perlu menjadi hambatan atau beban dalam memulai usaha.

Salam Man Jadda Wajada.

Ngobrol di TWITTER @akbarzainudin