Mutiara Man Jadda Wajada TEMAN YANG BAIK

Mutiara Man Jadda Wajada

TEMAN YANG BAIK

“Khairu al-ashabi man yadulluka ‘ala al-khairi” (al-mahfudzat)

“Sebaik-baik teman adalah yang menunjukkanmu kepada kebaikan” #PepatahArab

Teman itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita. Teman bisa memberi semangat, teman pula bisa mendatangkan mudharat (kerusakan).

Hati-hati memilih teman. Memilih teman hampir sama dengan memilihkan masa depan kita seperti apa. Teman-teman yang suka hura-hura akan membawa kita kepada hura-hura. Teman-teman yang suka menyia-nyiakan waktu dan kehidupan akan membawa kita kepada hal yang sama.

Carilah teman yang membawa kita kepada kebaikan. Berkumpullah bersama teman-teman yang saling mengingatkan.

Hidup ini hanya sekali. Jangan sampai salah memilih teman membawa kita kepada keburukan. Kita selalu punya pilihan masa depan kita seperti apa.

Teman kita, masa depan kita.

Salam MJW, man jadda wajada.
Sukses. Bermanfaat. Berkah
Ngobrol di  TWITTER @akbarzainudin

 

 

 

Mutiara Man Jadda Wajada JANGAN REMEHKAN HAL-HAL KECIL

Mutiara Man Jadda Wajada

JANGAN REMEHKAN HAL-HAL KECIL

Laa tahtaqir syai’an shaghiiran muhtaqaran. Farubbamaa asaalati ad-dama al-ibaru” (Al-Mahfudzat)

Janganlah meremehkan hal-hal kecil yang terhina. Bahkan sebuah jarum kecilpun mampu membuat kita berdarah #PepatahArab

Semua kehidupan besar di dunia ini bermula dari hal-hal kecil. Karena kecil, banyak orang yang tidak menganggapnya ada, atau meremehkan karena dianggap tidak bernilai. Padahal, hal kecil itu kalau kita seriusin nilainya tidak kalah besar dengan apa yang dianggap besar.

Apa yang kita pikirkan tentang sampah dan barang bekas yang berserakan di tempat sampah? Tidak ada yang berpikir itu akan berguna sampai datanglah orang-orang, terutama orang Madura yang dengan jeli memanfaatkan sampah dan barang bekas itu menjadi bernilai harganya. Mereka membeli dengan harga sampah dan barang bekas, dibagusin lagi, lalu menjualnya dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Atau orang yang jualan nasi uduk, warung kelontong, loper Koran, makanan dan minuman secara asongan, mungkin kita anggap kecil penghasilan mereka. Tetapi ternyata, lumayan juga untuk bisa menyambung hidup dan menghidupi keluarga. Semua bermula dari hal kecil.

Memulai sesuatu karenanya tidak perlu khawatir dari yang kecil. Cita-cita dan impian memang harus besar, tetapi mulainya memang mesti dari yang kecil, agar bisa belajar jatuh bangunnya kehidupan dan menyiapkan diri untuk tantangan yang lebih besar.

Ketekunan kita, disiplin, kerja keras, ketangguhan, pantang menyerah, semuanya yang akan membuat apa yang kita mulai dari kecil itu bisa menjadi besar. Impian besar, mulai dari apa yang bisa kita lakukan sekarang.

 

Salam Man Jadda Wajada
Sukses. Bermanfaat. Berkah
Ngobrol di  TWITTER @akbarzainudin
(https://twitter.com/akbarzainudin)

 

 

Inspirasi Man Jadda Wajada SATE BANDENG BANTEN

SATE BANDENG “RATU TOETY” KHAS BANTEN

Ibu Ratu Toety (Kanan), Pengusaha Sate Bandeng Banten

Ibu Ratu Toety (Kanan), Pengusaha Sate Bandeng Banten

Namanya ibu Ratu Toety, umurnya sekitar 53 tahun, namun semangatnya berwirausaha tidak kalah dengan para pemuda di bawah umurnya. Bayangkan, baru lima tahun terakhir, ibu Ratu Toety merintis usaha Sate Bandeng, sebuah produk khas Banten yang sangat terkenal.

Seperti pada umumnya sebuah resep, racikan Sate Bandeng Ratu Toety didapatkan turun temurun dari neneknya, lalu diturunkan kepada ibunya, dan diturunkan lagi kepadanya. Resep turun temurun ini sayangnya selama ini tidak dikembangkan jauh sebagai bisnis, tetapi lebih banyak untuk hobi, kesenangan, dan keterampilan sendiri belaka. Ada memang beberapa tetangga yang sering minta tolong dibuatkan, tetapi tidak terus menerus, hanya sesekali.

Naluri bisnis ibu Ratu Toety-pun tumbuh, walaupun agak telat dari sisi usia. Tetapi itu tidak menghalangi semangatnya untuk terus maju. Dimulai dari tahun 2008, dengan modal Rp 100.000, mulailah geliat bisnis Sate Bandeng yang diberi merek sama dengan namanya RATU TOETY dijalankan. Dari Rp 100.000 ini bisa didapatkan 5 Kg ikan bandeng yang setelah diolah menjadi 20 tusuk Sate Bandeng. Saat itu, satu tusuk dihargai Rp 10.000. Dari 20 tusuk, ia dapat menjual 10 tusuk. Begitulah, modal sedikit itu ia putar terus menerus hingga bisa menjadi lebih besar.

Momentum berikutnya adalah saat ia menerima order besar pertamanya berupa 100 tusuk Sate Bandeng seharga Rp 1 Juta. Karena tidak punya modal besar, iapun meminta pembayaran 50% sebagai pembayaran uang muka. Dengan penuh semangat, ibu Ratu lalu memproduksi sate bandeng pesanan itu sebaik-baiknya.

Dari berbagai order inilah, Sate Bandeng Ratu Toety mulai berkembang. Rasanya yang khas, unik, dibuat dengan segar menjadikan Sate Bandeng Ratu Toety mulai dikenal oleh banyak orang. Untuk mendistribusikan produknya, ibu Ratu menggandeng toko-toko oleh-oleh di sekitar Serang dan Cilegon. Mereka diajak bekerja sama menjual produk Sate Bandeng.

Sate Bandeng Ratu Toety Serang Banten

Sate Bandeng Ratu Toety Serang Banten

Apa itu sate bandeng? Bagi yang belum tahu, berbeda dengan sate ayam atau sate kambing, sate bandeng adalah sate olahan. Dinamakan sate karena memang badan ikan bandeng dicapit dengan bilah bambu yang menusuk dan mengapit keseluruhan badan.

Menurut ibu Toety, cara membuat sate bandeng sebenarnya tidak terlalu sulit, bandeng dibersihkan sisiknya, lalu dibelah di bagian leher. Hal yang paling sulit adalah melorotkan keseluruhan daging bandeng dari kulitnya. Hal ini butuh latihan dan keterampilan khusus. Hanya ikan bandeng yang bisa dilorotkan dagingnya, karena bandeng mempunyai kulit yang tebal.

Setelah daging dipisahkan dari kulit, daging kemudian dihancurkan, dan diaduk-aduk dengan santan kental dan bumbu-bumbu campuran bawang merah, ketumbar, bawang putih dan garam. Adonan diaduk-aduk hingga merata. Setelah itu, adonan dimasukkan kembali ke dalam kulit bandeng, dicapit dengan dua bilah bambu, dibungkus daun pisang, lalu dibakar. Setelah matang, daun pisang dilepas, lalu sisa adonan dibalurkan lagi ke badan ikan, dan dibakar sekali lagi. Jadilah sate bandeng yang gurih dan enak luar biasa.

Salah satu permasalahan utama dari Sate Bandeng adalah keawetan produk yang hanya bisa bertahan 3 hari. Jika lebih dari tiga hari, maka produk Sate Bandeng ini akan basi. Artinya, Sate Bandeng yang diproduksi hari ini harus juga laku hari ini atau paling lambat keesokan harinya.

Ibu Toety-pun mencoba mengatasi kesulitan itu dengan membeli mesin vacuum. Dengan kemasan vacuum hampa udara memang tingkat keawetannya lebih baik, hingga bisa bertahan sekitar satu minggu. Dengan demikian, bisa dikirim ke luar kota ataupun jika di toko bisa bertahan beberapa hari lebih lama.

Agar lebih menarik, mulai awal tahun 2013 ibu Toety membuat kemasan yang sangat menarik. Kemasan ini merupakan hasil dari berbagai pelatihan kemasan yang diadakan oleh pemerintah. Walhasil, dengan kemasan yang bagus ini, harga jual bandeng RATU TOETY bisa semakin bagus, karena konsumen juga lebih senang dengan kemasan yang bagus.

Hingga sekarang, Ibu Toety bisa mengolah hingga 40 Kg bandeng setiap hari, atau sekitar 160 tusuk bandeng. Dengan harga bandeng di kisaran Rp 25.000, Ibu Toety bisa meraup penghasilan sekitar Rp 4 juta SETIAP HARI. Sebuah penghasilan yang dahsyat untuk ukuran usaha kecil menengah yang baru dirintis beberapa tahun.

Beberapa Faktor Sukses yang dapat kita pelajari dari Ibu Toety di antaranya adalah:

Pertama, soal rasa. Kalau berbicara makanan, soal rasa adalah hal pertama yang menjadi perhatian banyak orang. Walaupun di Serang khususnya dan Banten secara umum banyak produsen Sate Bandeng, namun setiap merek mempunyai ciri khas masing-masing. Ibu Toety mempertahankan resep turun temurun dari neneknya sehingga ciri khas itu tetap terjaga.

Kedua, soal distribusi. Jika ingin menjangkau konsumen lebih luas, distribusi produk mutlak merata. Kerjasama dengan toko-toko oleh-oleh, hotel, dan juga rumah makan menjadikan Sate Bandeng Ratu Toety mudah ditemukan oleh konsumen.

Ketiga, kemasan. Kemasan yang baik akan sangat membantu konsumen dalam membeli produk. Kemasan yang baik juga akan mengangkat nilai dan harga jual produk.

Keempat, ikuti semua program Bimbingan dan Pelatihan dari Pemerintah. Niatkan untuk belajar bagaimana bisa membuat bisnis naik kelas. Program bimbingan dan pelatihan ini kalau diikuti dengan serius dan sungguh-sungguh akan membawa banyak manfaat bagi pengembangan bisnis. Jangan asal ikut hanya untuk tanda tangan dan uang transport belaka.

Kelima, promosi produk. Untuk produk semacam ini, pameran masih menjadi alat promosi paling efektif. Selain itu, promosi dari mulut ke mulut juga sangat membantu. Dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin masif, layaknya memanfaatkan media internet ini untuk melakukan promosi.

Salam Man Jadda Wajada
Ngobrol di TWITTER @akbarzainudin